SIMBOL AGAMA DAN BUDAYA POPULER

Barangkali tak banyak orang yang tahu apa di balik dari munculnya simbol-simbol keagamaan kontemporer pada era mutakhir sekarang ini. Sepertinya memang simbol-simbol keagamaan yang muncul di masyarakat mencerminkan realitas dari masyarakat tersebut. Maraknya simbol keagamaan tidak diiringi oleh tingkat kesadaran dan pemahaman terhadap simbol keagamaan tersebut. Sehingga terlihat indikasi bahwa masyarakat memang kurang memahami makna atau substansi dari simbol-simbol keagamaan yang dipakai. Padahal kalau dikaji secara mendalam terlihat bahwa ada indikasi yang kuat pada masyarakat akhir-akhir ini yang hanya menjadikan praktik dan pengalaman religius tak lebih sekedar komoditas hiburan atau komoditas belaka. Oleh karena itu, jangan heran kalau kita menemukan sebagian masyarakat kita mencari Tuhan tidak lagi melalui perenungan dalam kesunyian, tapi cukup melalui pengajian yang mendatangkan siraman rohani dari kiai da’i beken yang diiringi dengan konser nasyid dan disponsori oleh barang konsumsi massa (mungkin juga rokok) dengan menjanjikan door-prize yang menarik.
Ini memang abad kapitalisme. Kapitalisme memang telah masuk ke dalam wilayah keagamaan, sehingga ia telah menciptakan manusia-manusia yang saleh secara simbolik. Hal ini bisa dilihat dari bagaimana kapitalisme telah memoles simbol-simbol dan ritus-ritus keberagaman manusia pada abad ke-21 ini. Barangkali tidak berlebihan kalau dikatakan bahwa keberagamaan selama ini memang hanya dipraktikkan sebatas simbol-simbol dan ritual-ritual yang tidak pernah menyentuh kesadaran etik dari penganutnya. atau hanya pada sebatas kulit, belum menukik ke yang lebih substansi, sehingga kesalehan personal belum diiringi dengan kesalehan sosial atau saleh privat kepada saleh yang bersifat publik. Oleh karena itu, kita masih bisa sering saja menemukan adanya koruptor atau manipulator yang berjubah kesalehan. Itulah sebabnya mengapa simbol-simbol religiusitas yang kita temui hanya menjadi simbol dari gaya hidup (life styles).
Semangat keagamaan dalam tataran simbol-simbol keagamaan inilah yang menjadi incaran dari industri budaya kapitalsme. Orang bisa mengira bahwa spiritulitas dan kesalehan bisa diburu dalam kosumsi massa, karena secara simbolik memang budaya konsumerisme menjanjikan kepuasan untuk memenuhi hasrat hedonisme spiritual. Dan hal ini tanpa disadari telah memusatkan perhatian mereka pada pemujaan benda-benda, ikon-ikon atau berhala-berhala kemodernan.
Bagi kalangan masyarakat tertentu banyak yang berbondong-bondong menghadiri pengajian meskipun harus membayar mahal, karena di sana ada dipentaskan simbol-simbol kesalehan. Sebagian ada yang pergi umrah atau haji berkali-kali sekedar menghabiskan uang, sementara mereka di kelilingi oleh manusia-manusia pengemis dan peminta-minta. Simbol-simbol pengajian memang marak di masjid-masjid kota besar hingga ke kampung-kampung, tetapi yang tidak kalah menarik mal-mal dan pub-pub juga sekarang sudah mengadakan acara buka bersama dan tabligh akbar yang mendatangkan artis dan kiai kondang. Kita juga sering menemukan para wanita, anak gadis dan juga kaum pria kini beramai-ramai mengenakan busana muslimah hasil rancangan artis dan desainer terkenal yang mahal dan trendi. Jadi, kerudung/jilbab tidak cukup lagi hanya dipahami semata-mata sebagai ungkapan takwa. Akan tetapi, di sebagian kalangan masyarakat, busana muslimah ini sendiri tidak ubahnya seperti pergantian selera mode pakian (fashion)saja. Sehingga memunculkan pertanyan, apakah dengan menjamurnya fenomena ini ada kaitan dengan tumbuhnya industri mode dikalangan umat Islam akhir-akhir ini.
Tidak heranlah kalau sekarang jilbab atau kerudung begitu mudah berubah menjadi mode untuk mengikuti trend gaya hidup moderen. Jadi tidak aneh bila kini banyak banyak gadis remaja Muslimah yang berkerudung dengan celana jeans ketat dan kaos yang memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya dan terkadang juga pusarnya terlihat. Di mana esensi atau makna yang selama ini diajarkan? Terbuktilah bahwa kapitalisme sudah masuk ke dalam relung kehidupan masyarakat konsumeris yang harus berubah setiap saat mengikuti selera masyarakat dengan budaya populer.
Tegasnya disini memang masyarakat kita masih beragama pada sekedar mementingkan simbol-simbol saja. hal ini bisa ditemukan juga pada beberapa simbol di balik asesoris kesalehan dalam berpakaian, berias diri atau pembersih diri yang melahirkan “mode Islami”, “busana Muslimah” dan “Kosmetika Muslimah”, kita juga masih bisa menemukan beberapa simbol keagamaan lainnya. Kita juga bisa menemukan tasbih atau stiker di mobil-mobil mewah dengan ungkapan taqwa: “Moselem’s Car”, “I Love Islam”, “Islam is My Religion”, dan lain-lain yang menjadi simbol pemiliknya yang saleh.
Terkait dengan ini, sepertinya masyarakat kita sudah diracuni dengan tanpa disadari oleh budaya kapitalisme. Ini bisa tampak pada praktik sebagian masyarakat yang religius tersebut dari cara konsumsi mereka terhadap aksesoris-aksesoris yang bisa dipasarkan melalui industri mode busana muslimah. Itulah sebabnya kenapa orang berbondong-bondong menyembah konsumsi terhadap materialisme. Seolah-olah dengan menjadi masyarakat yang mampu mengonsumsi (consumer society) mereka bisa mendapatkan kepuasan spiritual.
Iklan yang berisi paket-paket pengalaman kesalehan yang menawarkan “Haji Plus”, “Umroh bersama kiai beken”, Paket Ramadhan”, dan “Tarawih di Hotel Berbintang, telah menjadi trend setiap tahun di sepanjang bulan Ramadahan. Berdirinya sekolah-sekolah Islam yang mahal, kafe khusus Muslim, dan menjamurnya Excecutive Moslem Fashion merupakan bagian yang tidak bisa terpisah dari budaya populer yang memanfaatkan sensibilitas keagamaan untuk kepentingan bisnis. Sementara itu, maraknya penerbitan majalah anak muda Islam nyaris tidak jauh berbeda dengan dengan majalah anak muda umumnya. Yang ditawarkan adalah juga dalam bentuk mode, shopping, soal gaul, seks dan pacaran yang dianggap oleh penelolanya sebagai “yang Islami”. Sehingga bisa ditangkap pesan ideologisnya bahwa: beragama tapi tetap trendi atau biar religius tapi tetap modis. Bacaan kawula muda ini tidak jauh beda dengan yang lainnya yang banyak menawarkan gaya hidup khas anak muda yang kemudian membentuk budaya kawula muda (youth culture).
Budaya populer, dengan perangkat-prangkatnya seperti mal, pusat perbelanjaan, mode atau fashion dan juga televisi, sudah menjadi segala-galanya bahkan melebihi tuhan yang mereka yakini dalam agama mereka. Oleh karena itu, para pemikir keagamaan sekarang ini harus mulai melihat bahwa sensibilitas keagamaan pun sudah mulai menjadi komoditas di pentas konsumsi massa. Ketika kerudung, jilbab, gamis, baju koko, atau aksesoris Muslim lainnya kian menjadi fashion dan mulai menjadi bisnis besar, maka sepertinya muncul upaya disadari atau tidak untuk memberikan label “Islamisasi” dalam perilaku konsumtif di dunia mode dan shopping tersebut. Padahal mungkin yang terjadi sebenarnya adalah kapitalisasi Islam atau penaklukan semangat keberagamaan oleh pasar, dunia bisnis atau kapitalisme itu sendiri.
Barangkali manusia modern kini memang tengah dihinggapi semacam keterpesonaan kepada apa yang disebut Peter L. Berger, sebagai “ilusi-ilusi modernitas”. Mereka mengira bahwa dalam kemewahan yang dibungkus dengan kesalehan simbolik itu mereka akan berjumpa dengan Tuhan mereka di mal atau hotel berbintang dengan perut kenyang, sementara di sekeliling mereka terdapat orang-orang kelaparan.
Barangkali juga benar bahwa praktik pemujaan gaya hidup mewah yang berjubah kesalehan simbolik tersebutlah yang telah melahirkan generasi baru kelas menengah muslim khususnya dan masyarakat Indonesia ummnya sebagai generasi pemuja dan penikmat spiritualitas untuk bersenang-senang. Akhirnya, agama hanya dijadikan pengalihan kebiasaan dari “hedonisme sekular” ke “hedonisme spiritual”. Inilah manifestasi dari pergeseran kesedaran keberagamaan manusia moderen yang dipentaskan di panggung kebudayaan populer dalam bentuk simbol-simbol kesalehan.

Yasir Dosen Ilmu Komunikasi Fisip Univerista Riau.